Panorama Keindahan Gunung Sunda, Desa Padaasih, Kec. Cisaat Dari Jalan Jalur Lingkar Selatan Cibolang Cisaat / Foto : Rapik Utama
MEDIAAKSARA.ID – Kepala Desa Padaasih, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Aum Ruhyandi, mengungkapkan pandangannya terkait potensi wisata alam Gunung Sunda yang terletak di Kampung Jambelaer, RT 01/RW 01. Dalam keterangannya kepada mediaaksara.id, Aum menyatakan bahwa pihak desa akan berupaya mengembangkan destinasi wisata tersebut jika kepemilikan tanahnya berada di bawah warga masyarakat atau pemerintah desa.
“Jujur saja, jika tanah itu mutlak milik warga atau pemerintah desa, tentu kami akan berusaha mengembangkan destinasi wisata Gunung Sunda. Apalagi saat ini ada dorongan kuat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika nanti Gunung Sunda dibuka untuk umum, pasti akan ada aktivitas pemberdayaan masyarakat yang melibatkan karang taruna, BUMDes, tokoh masyarakat, dan alim ulama,” ujar Aum di Kantor Desa Padaasih.
Aum, yang akrab disapa Jaro Aung, menjelaskan bahwa pihaknya belum bisa memastikan kapan Gunung Sunda akan dibuka kembali, mengingat belum adanya izin resmi dari pemilik lahan, yaitu beberapa perusahaan semen seperti RD, P, dan A.
“Luas keseluruhan lahan Gunung Sunda yang dimiliki perusahaan tersebut sekitar 80 hektare, termasuk aset kas desa yang berada di area parkiran Gunung Sunda. Wilayah ini berbatasan dengan Desa Cibatu dan Cibolang di Kecamatan Cisaat, serta Desa Cicantayan dan Cimahi di Kecamatan Cicantayan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Jaro Aung berharap agar pemilik tanah Gunung Sunda dapat memberikan izin kepada pemerintah desa untuk mengelola wisata alam tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak desa tidak akan mengklaim kepemilikan Gunung Sunda, mengingat Desa Padaasih sendiri merupakan hasil pemekaran dari Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat.
“Kami berterima kasih kepada Pak RC. Pada 2018, Gunung Sunda pernah dibuka selama empat tahun, hingga akhirnya ditutup pada 2022 akibat pandemi COVID-19. Namun, penutupan itu bukan keputusan pemerintah desa, melainkan mengikuti aturan pemerintah yang melarang kerumunan. Setelah pandemi, kami sangat mendukung jika Gunung Sunda dibuka kembali sebagai taman wisata alam, asalkan ada izin resmi dari pemilik tanah agar tidak terjadi kesalahpahaman,” tegas Aung.
Sebagai anak bungsu dari almarhum Momon Madjanan, juru kunci pertama Gunung Sunda, Jaro Aung juga mengungkapkan sisi sejarah dan mitos yang melekat pada gunung tersebut.
“Almarhum ayah saya lahir pada 1953 dan wafat pada usia 80 tahun pada 2008. Bersama Uwa Enin, beliau adalah juru kunci pertama Gunung Sunda. Menurut cerita beliau, dahulu nama Gunung Sunda adalah Gunung Kerud, yang terdiri dari Gunung Wetan dan Gunung Kulon. Di sana terdapat beberapa tokoh spiritual, seperti Syaikh Lanang Jaya di Blok Pasir Kulon, Syaikh Ahmad Kandeas di Blok Barat, dan Syaikh Hadong di Blok Cijabon,” bebernya.
Terkait berbagai kisah mistis Gunung Sunda, Jaro Aung mengaku tidak mengetahui secara pasti, tetapi merasa heran dengan adanya pihak-pihak yang mengaku sebagai juru kunci baru dan menyebarkan cerita mistis.
“Saya hanya anak dari keturunan , jadi tidak tahu persis cerita mistis Gunung Sunda. Kadang saya geli melihat orang yang tiba-tiba mengaku sebagai kuncen. Namun, saya tidak bisa memastikan kebenaran cerita mereka karena nenek moyang kami sudah tiada,” tuturnya.
Berdasarkan cerita turun-temurun, di Pasir Gunung Wetan terdapat Batu Gede Sigeruleng yang konon tembus hingga Goa Kuta Maneuh di Gunungguruh. Beberapa pusaka seperti keris juga disebut-sebut berada di sana. Selain itu, ada Batu Lulumpang di Pasir Kulon yang pernah dibor pada 1970, Batu Buruy, Batu Bilik, serta sumber mata air di Blok Cikereti yang masih ada hingga kini.
“Saya menjawab ini karena ditanya. Jika ada kesalahan dalam cerita saya, saya mohon maaf,” pungkas Jaro Aung.
Reporter: Rapik Utama







