Siswa Terpaksa Gabung Kelas dan Kepala SDN Kaum Hegarmanah, Warungkiara Kabupaten Sukabumi, Agus Sujarwanto diwawancara awak media / Foto : MediaAksara
MEDIAAKSARA.ID — Kondisi memprihatinkan terjadi di SDN Kaum, Desa Hegarmanah, Warungkiara Kabupaten Sukabumi, di mana keterbatasan sarana dan prasarana memaksa proses belajar mengajar dilakukan secara tidak ideal. Kerusakan bangunan yang cukup parah membuat siswa harus belajar dengan sistem penggabungan kelas.
Kepala SDN Kaum Hegarmanah, Agus Sujarwanto, menjelaskan pihak sekolah telah mengoptimalkan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), termasuk alokasi sekitar 10 persen untuk pemeliharaan fasilitas. Namun, dana tersebut hanya mampu menutup perbaikan ringan.
“Pemeliharaan sudah kami lakukan sesuai ketentuan. Tapi kalau kerusakan berat, tidak bisa tercover oleh dana BOS,” ujarnya, Selasa (21/4/2026) di Kantor SDN Kaum.
Sejumlah upaya perbaikan telah dilakukan, seperti pengecatan ruang kelas hingga renovasi fasilitas dasar seperti kamar mandi. Pihak sekolah juga menambah tenaga penjaga demi meningkatkan keamanan lingkungan.
Meski begitu, dari total lima ruang yang tersedia, satu ruang kelas tidak dapat digunakan akibat kerusakan berat. Kondisi ini berdampak langsung pada kegiatan belajar mengajar.
- Dengan hormat: Dilarang melakukan penyalinan (copy-paste), tindakan plagiarisme, atau penggunaan sebagian maupun seluruh isi artikel tanpa izin resmi dari Redaksi MediaAksara.id
- Baca Juga: https://mediaaksara.id/parkir-berbayar-tanpa-legalitas-praktik-pungli-di-puncak-aher-disorot-kadus-ciemas-dinas-pariwisata-sukabumi/
Akibat keterbatasan ruang, siswa terpaksa belajar dengan sistem penggabungan kelas. Kelas 1 digabung dengan kelas 2, kelas 3 dengan kelas 4, sementara kelas 6 harus berbagi ruang dengan kantor sekolah.
“Kendala ini jelas menghambat proses belajar. Tapi kami tetap berupaya agar kegiatan belajar tetap berjalan,” ungkap Agus.
Ia menambahkan, kondisi bangunan sudah terjadi sebelum dirinya menjabat pada 2023. Pihak sekolah juga telah mengajukan rehabilitasi, namun hingga kini belum terealisasi.
Dengan jumlah siswa sekitar 57 orang, keterbatasan anggaran semakin terasa. Sekolah berharap adanya perhatian serius dari pemerintah agar perbaikan menyeluruh segera dilakukan, sehingga siswa dapat belajar dengan aman dan layak.
Reporter: Juliansyah
Redaktur: Rapik Utama







