MEDIAAKSARA.ID -Curug Cimarinjung, terletak di Desa/Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Curug ini merupakan salah satu air terjun andalan di kawasan Ciletuh Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGGp). Air terjun ini juga dikenal masyarakat dengan nama Curug Goong. Menurut legenda, kawasan ini dipercaya sebagai “keraton alam ghaib” tempat masyarakat meminjam peralatan gamelan untuk perayaan tradisional. Namun, alat-alat tersebut mulai hilang karena tidak dikembalikan.

Tak jauh dari Curug Cimarinjung, terdapat dua air terjun kecil lainnya, yaitu Curug Dogdog dan Curug Nyelempet, yang juga memiliki kaitan dengan legenda alat gamelan tersebut. Kawasan ini menjadi daya tarik wisatawan karena keindahan alam dan cerita yang melekat pada setiap sudutnya.

Namun, bencana hidrometeorologi pada Desember 2024 sempat mengurangi jumlah kunjungan wisatawan. Meski begitu, perlahan jumlah pengunjung mulai kembali, seperti disampaikan oleh Supiyar, seorang petugas dari Badan Penyelamat Wisata Tirta (BPWT) yang telah bertugas selama tiga tahun.
Operasional Curug Cimarinjung dibuka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.00. Namun, jika pengunjung membludak, jam operasional bisa diperpendek hingga pukul 16.00 demi keamanan. Supiyar menjelaskan, ketiadaan penerangan dan kondisi area curug yang licin saat hujan menjadi alasan utama pengaturan ini.
“Debit air di curug sangat bergantung pada cuaca. Saat musim hujan, air cukup besar, dan pengunjung biasanya hanya menikmati pemandangan. Di musim kemarau, beberapa pengunjung kadang berenang, meski kedalaman area hanya 1-2 meter,” ungkapnya.
Menurut Supiyar, tinggi air terjun mencapai sekitar 70 meter berdasarkan pengukuran bersama komunitas panjat tebing pada 2016. Hingga kini, belum pernah terjadi kecelakaan serius di area curug, meski keberadaan monyet dan lutung dari hutan terdekat kadang menjadi perhatian.
Fasilitas dan Pengelolaan Wisata Disepanjang perjalanan menuju curug, pengunjung akan menemukan sepuluh pedagang yang menjajakan makanan dan minuman. Fasilitas yang tersedia di area curug mencakup pos jaga, mushola, dan MCK. Namun, tidak ada gazebo karena area sekitar curug dikelilingi tebing tinggi dan batuan besar yang berpotensi membahayakan.
Saat ini, Curug Cimarinjung dikelola oleh masyarakat dan pemerintah desa tanpa menerapkan tiket masuk. Pengunjung cukup memberikan donasi sukarela. “Dulu pernah dikenakan tiket Rp3.000, tetapi kebijakan itu tidak dilanjutkan karena khawatir memicu perdebatan,” tambah Supiyar.
Dengan keindahan yang memukau dan legenda yang melekat, Curug Cimarinjung tetap menjadi destinasi favorit wisatawan lokal maupun mancanegara. Kawasan ini tidak hanya menawarkan pemandangan alam, tetapi juga pengalaman mendalam akan kearifan lokal yang tak ternilai.
Reporter: W. Windu







