RI-28 Bersama Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al-Fath Sukabumi/ Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID – Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath merayakan Milad ke-15 dengan beragam kegiatan budaya, di antaranya Festival Oldtrad Bola Lengeun Seuneu (Boles) dan Adu Lisung Tingkat Nasional. Acara ini juga menampilkan pencak silat jurus khas Aliran Sang Maung Bodas (SMB). Perayaan ini semakin istimewa dengan kehadiran Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon,yang dikenal sebagai RI-28.
Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al-Fath, Muhammad Fajar Laksana, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas kunjungan Menteri Kebudayaan. Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon menyerahkan piagam penghargaan atas pengakuan permainan tradisional Boles di tingkat nasional, Rabu (29/01/2025).

Diketahui, Bola Lengeun Seuneu (Boles) dan Ngagotong Lisung Ngamuk merupakan seni budaya olahraga tradisional unggulan dari Provinsi Jawa Barat. “Alhamdulillah, semoga Pak Menteri memahami makna utama kebudayaan. Tinggal bagaimana kebijakan selanjutnya—berapa kekuatan realistis Kementerian Kebudayaan dalam membangun dan mengembangkan keanekaragaman budaya Indonesia,” ujar Guru Besar Pencak Silat Aliran Sang Maung Bodas (SMB).
Dalam kunjungannya, Fadli Zon juga menyempatkan diri untuk melihat Museum Prabu Siliwangi di Ponpes Dzikir Al-Fath, RI-28 pun sempat didalam museum membubuhkan tanda tangannya diselembar bahan kanvas . Sebagai penguat bahwa museum Prabu Siliwangi telah terakreditasi oleh Kementerian Kebudayaan. Koleksi Museum banyak menyimpan berbagai benda bersejarah yang telah tiga kali diteliti oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ketua BRIN, Pak Putu, juga hadir dalam acara tersebut. “Buku hasil penelitian BRIN kemarin sudah dicetak resmi oleh penerbit nasional dan akan diserahkan kepada Pak Menteri,” ungkap Fajar Laksana.
Ponpes Dzikir Al-Fath sebelumnya meraih juara pertama dalam bidang potensi seni dan budaya tingkat Jawa Barat pada tahun 2024. Selain itu, pesantren ini juga dinobatkan sebagai yang terbaik dalam kategori objek wisata ramah muslim. “Itulah alasan Pak Menteri berkenan hadir di sini,” tambahnya.
Fajar berharap terbentuknya Kementerian Kebudayaan dapat memberikan perhatian lebih besar, baik dari segi anggaran maupun program kerja. Ia juga menekankan pentingnya keberadaan museum sebagai pusat penelitian bagi para cendekiawan.
“Contohnya, Museum Prabu Siliwangi telah mencetak lulusan S1, S2, dan S3. Cendekiawan bisa lahir dari museum, terutama dalam bidang seni budaya, filologi, arkeologi, antropologi, dan sebagainya,” jelasnya.
Menurut Fajar, museum dapat menjadi pusat ilmu pengetahuan karena akal dan pemikiran melahirkan pengetahuan, sementara kebudayaan lahir dari adat dan kebiasaan. “Museum bisa menjadi fondasi utama untuk menghasilkan temuan-temuan baru,” katanya.
Sebagai bentuk perlindungan budaya, Fajar juga mengusulkan adanya penetapan hari besar bagi setiap jenis kebudayaan. “Hal ini bisa menjadi pengingat asal-usul budaya serta bentuk perlindungan atau hak paten,” imbuhnya.
Serangkaian kegiatan dalam perayaan Milad ke-15 Ponpes Modern Dzikir Al-Fath juga mencakup Acara Seminar Hasil Laporan Penelitian BRIN terkait Museum Prabu Siliwangi (tahap ke-3), Seminar Ustadz Garis Depan Al-Fath (UGD) dan Pembukaan Festival Maen Boles sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) tingkat nasional.
Momen acara ini menegaskan komitmen Ponpes Modern Dzikir Al-Fath melestarikan dan mengembangkan seni budaya serta ilmu pengetahuan di Indonesia.
Reporter : Rapik Utama







