Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, Mochamad Reza Taojiri diwawancara awak media di kantor Desa Cibolang Gunungguruh/ Foto: MediaAksara
SUKABUMI, MEDIAAKSARA.ID — Sebanyak 151 siswa dan guru SMK Negeri 1 Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, dilaporkan mengalami gejala mual, pusing, dan diare setelah diduga mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cikujang pada Jumat (2/10/2026).
Hingga Kamis (8/10/2026), penyebab pasti gangguan kesehatan belum dapat dipastikan. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium selama empat hari terhadap sampel makanan yang diduga dikonsumsi siswa dan guru.
Kondisi memprihatinkan ini mendapat perhatian dari Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, Mochamad Reza Taojiri, yang juga merupakan putra daerah Gunungguruh.
Reza mengaku prihatin atas peristiwa dugaan keracunan makanan dan berharap seluruh siswa maupun guru yang mengalami gangguan kesehatan segera pulih.
”Saya merasa prihatin. Semoga pelajar dan guru lekas diberikan kesehatan,” ujar Reza kepada MediaAksara, Kamis (8/10/2026).
Baca Juga :
Menurutnya, informasi mengenai insiden baru diketahuinya sehari sebelum memberikan tanggapan. Ia menilai keterbukaan informasi dari pihak sekolah maupun SPPG perlu menjadi perhatian.
”Saya juga baru tahu kemarin karena tidak diumumkan. Tidak ada keterbukaan dari pihak sekolah maupun SPPG,” katanya melalui sambungan seluler.
Reza juga mendorong agar pengawasan terhadap operasional SPPG diperketat, khususnya terkait proses penyediaan dan distribusi makanan dalam program MBG.
Ia meminta apabila hasil pemeriksaan nantinya menunjukkan indikasi kelalaian dari pihak yang bertanggung jawab, maka harus dilakukan evaluasi dan penanganan sesuai ketentuan.
”Yang saya harapkan SPPG lebih diawasi ketat. Kalau memang ada kelalaian, harus dievaluasi dan diberikan sanksi sesuai ketentuan,” tegasnya.
Baca Juga :
RAPBD 2027 Dibahas Komprehensif, Ketua DPRD Sukabumi Dorong Anggaran Pro Kesejahteraan Masyarakat
Selain itu, Reza meminta pihak yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan MBG memastikan penanganan terhadap siswa maupun guru yang terdampak dilakukan secara serius, termasuk kebutuhan pengobatan apabila memang berkaitan dengan kejadian tersebut.
Menurutnya, program MBG memiliki tujuan meningkatkan kualitas kesehatan dan pemenuhan gizi peserta didik. Karena itu, aspek keamanan pangan dan pengawasan tidak boleh diabaikan.
”Jangan sampai anak-anak generasi bangsa ketika mengonsumsi makanan bergizi justru menjadi korban hingga terdampak sakit. Kasihan,” ujarnya.
Reza menambahkan, evaluasi pengawasan sebaiknya tidak hanya dilakukan terhadap SPPG yang berkaitan dengan kejadian di SMKN 1 Gunungguruh, tetapi juga terhadap SPPG lainnya, khususnya di Kecamatan Gunungguruh dan wilayah Kabupaten Sukabumi.
Baca Juga :
Ingat! Ketua PWI Jabar Soroti Wartawan Tak Terjebak Kecepatan di Tengah Fenomena Post-Truth
Ia berharap pengawasan terhadap seluruh tahapan penyediaan makanan MBG dapat ditingkatkan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
”Jangan hanya SPPG yang sekarang saja. Kalau perlu seluruh SPPG, khususnya di Gunungguruh dan Kabupaten Sukabumi, pengawasannya harus lebih ditingkatkan,” pungkasnya.
Sementara itu, sampai berita ini diturunkan, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami 151 siswa dan guru tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium Labkesda. Dengan demikian, belum dapat disimpulkan bahwa makanan MBG menjadi penyebab gangguan kesehatan para guru serta pelajar.
MediaAksara masih membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak SMKN 1 Gunungguruh, SPPG Cikujang, maupun pihak terkait lainnya untuk memberikan penjelasan mengenai kejadian tersebut.
Reporter: Ronald Alexander
Redaktur: Rapik Utama







