Ibunda Aye dan Salas remaja difabel dari keluarga Prasejahtera, warga Desa Talaga, Kecamatan Caringin Sukabumi, mampu menghasilkan lukisan dan Sastra / Foto: Istimewa
CARINGIN, MEDIAAKSARA.ID – Keterbatasan fisik ternyata tidak selalu membatasi seseorang untuk berkarya. Di sebuah rumah bilik sederhana di Kampung Cipuntang, Desa Talaga, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, seorang remaja justru menunjukkan kreativitas bisa tumbuh dari ruang yang serba terbatas.
Namanya Andreas Saputra (18), atau akrab disapa Aye. Ia merupakan siswa kelas XI Madrasah Aliyah At-Toyyibah Cipuntang sekaligus penyandang disabilitas.
Dengan kondisi fisiknya, Aye tetap tekun menekuni seni lukis. Menggunakan kertas putih dan pena warna, ia mampu menggambar beragam objek, mulai dari tokoh kartun hingga figur publik.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah lukisan mirip Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) . Dengan alat sederhana, Aye mencoba menghadirkan sosok yang dikenal dengan sapaan KDM melalui goresan tangannya.
Saat ditemui di kediamannya, Rabu (1/10/2026), Aye bahkan memperlihatkan kemampuannya membuat lukisan dalam waktu relatif singkat.
Baca Juga :
Bagi Aye, melukis bukan sekadar hobi. Keterampilannya juga menjadi salah satu cara memperoleh penghasilan.
”Biasanya kalau saya melukis, kadang ada yang nyuruh minta digambarin,” ujar Aye.
Bayarannya pun tidak besar. Ia mengaku terkadang hanya menerima Rp30 ribu hingga Rp50 ribu untuk sebuah karya. Namun dengan nominal itu tidak menyurutkan semangatnya terus berkarya.
”Ya kadang Rp30 ribu, Rp50 ribu, gimana dikasihnya saja. Saya berharap bisa ketemu Pak Gubernur, Bapak KDM,” tuturnya.
Di balik kemampuan melukisnya, Aye menyimpan mimpi yang sederhana namun cukup berarti untuk masa depannya: memiliki sebuah komputer.
Baca Juga :
Akhmad Munir Lantik Pengurus PWI Jabar 2026-2031, KDM Tekankan Pentingnya Objektivitas Pers
Ia ingin menggunakan perangkat untuk belajar desain grafis sekaligus membuka jasa desain. Dengan begitu, keterampilannya tidak hanya berhenti pada lukisan manual.
Kisah Aye ternyata bukan satu-satunya cerita tentang perjuangan berkarya dari keluarga prasejahtera.
Di rumah bilik sederhana yang dihuni, terdapat pula Salas (27), kakak perempuan Aye yang juga merupakan penyandang disabilitas.
Jika Aye mengekspresikan dirinya melalui lukisan, Salas memiliki ketertarikan dan kemampuan di bidang sastra dan puisi.
Dua bersaudara tersebut tumbuh dengan bakat masing-masing, meski berada dalam kondisi keluarga yang serba terbatas.
Baca Juga :
Ironinya, keterbatasan fasilitas justru tidak membuat keduanya berhenti berkarya. Sementara di luar sana, banyak orang yang memiliki perangkat, fasilitas dan kesempatan lebih memadai, tetapi belum tentu memanfaatkannya untuk menghasilkan sesuatu.
Kisah Aye dan Salas setidaknya menunjukkan bahwa persoalan disabilitas tidak semata-mata berbicara tentang keterbatasan fisik. Ada potensi, kreativitas dan keinginan untuk mandiri yang membutuhkan ruang untuk berkembang.
Ibunda Aye dan Salas, Enen, mengaku bangga melihat kemauan kedua anaknya.
Menurutnya, bakat alaminya muncul dari aktivitas sehari-hari dan dukungan lingkungan sekitar. Sesekali, ada teman maupun tetangga yang meminta Aye membuat lukisan atau Salas membuat puisi.
Baca Juga :
”Kalau dari kemauannya Andre maupun Salas, ya begitu saja. Kadang ada yang nyuruh dari temannya, tetangga. Kalau Andre melukis, kalau Salas kakaknya bikin-bikin puisi,” kata Enen.
Namun di balik kebanggaan itu, Enen menyimpan harapan agar anak-anaknya mendapat perhatian dan kesempatan untuk berkembang.
”Saya berharap anak-anak saya ini bisa sukses, dapat perhatian juga dari pemerintah,” ujarnya.
Enen mengaku keluarga mereka hingga kini belum pernah menerima bantuan sosial maupun bantuan lain yang diharapkan dapat meringankan kondisi keluarga.
”Sama sekali belum pernah dapat bantuan,” ucap lirihnya.
Reporter: M. Afnan 23
Redaktur: Rapik Utama







