Home / Seni Budaya

Jumat, 22 Mei 2026 - 10:29 WIB

Hari Nelayan Nasional ke-66 di Palabuhanratu Meriah, Warisan Budaya Sunda Memikat Ribuan Wisatawan

Sosok Mbah M’bép bersama Putri Nelayan dalam puncak pelaksanaan Hari Nelayan Nasional ke-66 di Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi/ Foto: Istimewa 

MEDIAAKSARA.ID – Ribuan warga dan wisatawan memadati sepanjang Jalan Siliwangi hingga kawasan Alun-alun Gadobangkong, Palabuhanratu, Kamis (21/5/2026). Mereka antusias menyaksikan puncak peringatan Hari Nelayan Nasional ke-66 yang masuk dalam rangkaian Kharisma Event Nusantara dengan mengangkat tema Warisan Budaya Sunda.

Pawai budaya menjadi pusat perhatian masyarakat. Arak-arakan yang menampilkan Putri Nelayan, seni kreasi tradisional, hingga berbagai atraksi khas pesisir berlangsung meriah. Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Sukabumi Asep Japar bersama unsur Forkopimda Kabupaten Sukabumi.

Salah satu panitia Hari Nelayan, Asép Nurbagelar atau yang akrab disapa Abah M’bép, mengatakan pelaksanaan Hari Nelayan 2026 memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya, dinamika kegiatan seni budaya Sunda dari tahun ke tahun ibarat pasang surut air laut yang selalu berubah mengikuti zaman.


“Selama pelaksanaan tahun ini, Abah berperan sebagai tokoh tua yang memimpin upacara adat sekaligus penulis cerita atau skenario. Alhamdulillah, meski persiapan singkat dan hanya satu kali latihan menggunakan gamelan, pagelaran bisa berlangsung luar biasa,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (22/5/2026).

Pada peringatan tahun ini, tema yang diangkat adalah prosesi penyerahan kekuasaan dari Putri Purnama Sari kepada putrinya, Mayang Sagara. Tema tersebut dikemas dalam filosofi Sunda bertajuk “Mika Asih Cai Di Kanyaah Lemah, Ciri Bakti Ka Gusti, Ciri Bakti Ka Nagari.”



Dengan hormat: Dilarang melakukan penyalinan (copy-paste), tindakan plagiarisme, atau penggunaan sebagian maupun seluruh isi artikel tanpa izin resmi dari Redaksi MediaAksara.id



Abah M’bép menjelaskan, pesan utama yang ingin disampaikan melalui upacara adat tersebut adalah pentingnya membangun budaya silih asah, silih asih, dan silih asuh dalam kehidupan bermasyarakat. Hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam harus dijaga secara harmonis.

Selain itu, ia juga berpesan kepada para Putri Nelayan agar tetap menjaga diri serta menjadi teladan bagi generasi muda, khususnya perempuan Sunda, agar tidak melupakan budaya daerah dan tata krama warisan leluhur.


“Kita orang Sukabumi kaya akan budaya yang harus terus dilestarikan dan dijaga. Nilai-nilai kesundaan harus tetap dipegang teguh,” katanya.

Ia menegaskan, Hari Nelayan bukan hanya menjadi tanggung jawab Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), melainkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah. Menurutnya, seluruh dinas dan instansi memiliki keterkaitan dalam mendukung suksesnya perhelatan budaya tingkat nasional tersebut.

Di akhir keterangannya, Abah M’bép menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan selama kegiatan berlangsung sekaligus mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan semua pihak yang telah berpartisipasi serta menghadiri perayaan Hari Nelayan Nasional ke-66 di Palabuhanratu.

 

Reporter: Sr1

Redaktur: Rapik Utama

Share :

Baca Juga

Seni Budaya

Delegasi Pencak Silat Italia Kunjungi Sukabumi, Bobby Maulana Dorong Kota Jadi Destinasi Budaya Dunia

Seni Budaya

Lautan Manusia Padati Palabuhanratu! Putri Nelayan dan Pawai Budaya Hari Nelayan 2026 Bikin Wisatawan Penasaran

Seni Budaya

KDM Tegaskan Kasundaan Jadi Energi Peradaban dan Masa Depan Bangsa

Seni Budaya

Peuting Munggaran Hari Jadi Tatar Sunda di Gedung Sate, Angkat Filosofi Kasundaan dan Semangat Pajajaran Anyar

Seni Budaya

Resmikan Desa Wisata Tikukur, Bupati & DPRD Sukabumi Dorong Pariwisata Berbasis Masyarakat

Seni Budaya

Festival Tikukur 2026 Luncurkan Desa Wisata Sukajaya, Angkat Budaya dan Potensi Lokal Sukabumi

Seni Budaya

FLS3N SMP 2 Cicurug 2026: Sarana Pembentukan Karakter dan Kreativitas Pelajar Sukabumi

Seni Budaya

Iket Sunda: Simbol Kesatuan Jati Diri yang Bertahan di Tengah Gempuran Zaman