Tangkapan layar postingan keluarga korban laka motor di jalan karang depan kantor samsat Cibadak Sukabumi memohon publik menghentikan penyebaran video tanpa sensor / Foto: Istimewa
MEDIAAKSARA.ID — Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, sebuah video kecelakaan lalu lintas di depan Samsat Cibadak, wilayah Karangtengah, Kabupaten Sukabumi, viral dan menuai sorotan publik. Namun di balik viralitas tersebut, tersimpan luka mendalam yang kini disuarakan oleh perwakilan keluarga korban.
Keluarga korban perempuan akhirnya angkat bicara. Melalui akun Facebook bernama Oktavianti Aniisa Oktavianti, mereka memohon kepada masyarakat untuk menghentikan penyebaran video yang memperlihatkan kondisi korban tanpa sensor.
“Kami selaku keluarga memohon kepada siapa pun yang telah mengunggah video tersebut agar segera menghapusnya. Kami sangat berduka melihat rekaman itu tersebar luas tanpa sensor,” tulisnya dalam unggahan yang turut menjadi perhatian warganet.
Peristiwa kecelakaan yang terjadi pada Sabtu (28/3/2026) sore dengan cepat menyebar di berbagai platform digital dan grup percakapan. Video yang beredar memperlihatkan kondisi korban pascakejadian secara jelas, sebuah konten yang dinilai sangat sensitif dan tidak layak untuk konsumsi publik.
Alih-alih menjadi informasi yang membangun kesadaran, penyebaran video tersebut justru memicu kritik. Sejumlah warganet menilai bahwa membagikan rekaman tragedi tanpa empati hanya menjadikan musibah sebagai tontonan, sekaligus mengabaikan perasaan keluarga yang ditinggalkan.
Bagi keluarga korban, viralnya video tersebut bukan sekadar persoalan etika digital, melainkan bentuk luka berulang. Setiap kali video itu muncul, mereka seolah dipaksa kembali menyaksikan detik-detik kehilangan orang tercinta.
Peristiwa ini pun kembali membuka pemahaman penting tentang etika bermedia sosial. Di era digital yang serba cepat, publik dituntut tidak hanya cerdas dalam mengakses informasi, tetapi juga bijak dalam membagikannya, terutama jika menyangkut tragedi kemanusiaan.
Peristiwa ini menjadi pengingat kuat: di balik setiap konten viral, ada manusia dan keluarga yang sedang berjuang menghadapi duka. Empati dan etika seharusnya tetap menjadi batas utama dalam bermedia sosial.
Sumber: Asep M’rhe
Redaktur: Rapik Utama






