KUB Sangu Sabar Peternak Entok di Lembur Situ Kota Sukabumi / Foto: RU
MEDIAAKSARA.ID – Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, Kelompok Usaha Bersama (KUB) Peternak Entok di Kota Sukabumi tetap semangat mengembangkan budidaya unggas air, khususnya entok atau Itik Manila. Mereka mengusung jargon Sangu Sabar ,atau singkatan dari Saeutik Ngulik Salengkah Barokah, yang berarti “Sedikit Upaya, Satu Langkah Berkah.”
KUB ini berlokasi di Jl. Pelabuhan II KM 08, Kp. Tegalleuga, RT 02/RW 20, Kelurahan/Kecamatan Lembursitu, kelompok ini digawangi oleh Agus (50), yang akrab disapa Kang Agus Bubur. Sebelumnya, ia berjualan bubur tetapi harus gulung tikar saat pandemi Covid-19. Kini, dengan tekad yang kuat, ia kembali bangkit sebagai peternak entok.
Pada awak media, Ia menceritakan awal perintisan beternak entok pada 2022 dengan jumlah 150 ekor entok lokal. Namun, keterbatasan modal dan mahalnya pakan membuatnya terpaksa menjual semua ternaknya. Semangatnya sempat surut, tetapi berkat dorongan sahabatnya, Erik dan teman-temannya ia kembali memulai dari awal.
“Kang Erik bilang, kalau mau mulai lagi harus punya konsep sederhana “saeutik ngulik salengkah barokah”. Artinya, modal kecil kita olah dengan baik, dengan harapan mendapat berkah. Dari situlah jargon ini tercipta,” kata Agus, Kamis (13/02/2025), di Kp. Tegalleuga, Lembursitu.
Saat ini, Agus bersama Erik memiliki 91 ekor entok, terdiri dari 17 ekor indukan, 20 ekor usia 4 bulan, dan 54 ekor usia 15 hari. Mereka memanfaatkan lahan seluas 150 m² yang juga terdapat kolam ikan berisi ikan nila, patin, dan bawal.
Guna menekan biaya pakan, mereka mengandalkan campuran bahan alami hingga 80 persen, seperti gedebog pisang, eceng gondok, dedaunan, serta sisa sayuran. Pakan tambahan berupa dedek dan pur daging diberikan secukupnya.
“Kami memberi makan entok tiga kali sehari, pagi, siang, dan malam. Selain itu, kami juga rutin memberikan vitamin, obat, serta membersihkan kandang agar entok tetap sehat,” jelas Agus.
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah pemasaran. Hingga kini, mereka masih mengandalkan tengkulak atau pengepul, sehingga harga jual tidak maksimal.
Melihat potensi besar di sektor peternakan entok, Agus bercita-cita membentuk komunitas peternak yang lebih solid. Ia pun telah mendaftarkan usahanya sebagai KUB dengan surat keterangan yang berlaku hingga 13 Februari 2025.
“Kami ingin berkembang lebih jauh, tapi terkendala modal dan wawasan. Kami berharap ada pembinaan dari pemerintah, baik dalam bentuk bantuan modal, sarana, pakan, hingga pemasaran,” harapnya.
Dengan kepemimpinan pemerintahan yang baru, Agus dan para peternak lainnya berharap ada perhatian lebih terhadap usaha mereka, sehingga mereka bisa terus berkembang dan berkontribusi pada ekonomi lokal.
Reporter: Rapik Utama







